Singkawang, 23/4 (ANTARA News) - Meski upaya pencegahan terus dilakukan, namun kasus kawin kontrak antara perempuan asal Kota Singkawang dengan pria asing masih tinggi.

Maya Satrini, aktivis dari Forum Komunikasi Pekerja Sosial Kota Singkawang, Rabu, mengatakan, dalam dua tahun terakhir ini pihaknya telah menangani ratusan kasus kawin kontrak.

"Tahun 2007, lebih dari seratus kasus. Angka ini tak jauh beda dibanding tahun sebelumnya," katanya disela kunjungan peserta Rakernas Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) ke klinik KB Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Singkawang.

Menurut dia, faktor ekonomi masih menjadi pemicu utama. Asal pria yang mengawini dari Taiwan, Cina, Malaysia dan Singapura.

Sebelumnya, "makelar" akan mendekati orang tua dari si gadis yang menjadi target. Faktor kepatuhan kepada orang tua membuat sang gadis akhirnya menyetujui kawin kontrak. Rata-rata, biaya yang diperoleh orang tua dari kawin kontrak sekitar Rp5 juta. Sementara sang makelar mendapat lebih dari itu.

Ia mengakui, sulit untuk mengetahui angka pasti gadis Singkawang yang menjalin kawin kontrak. "Kasus yang tercatat umumnya karena mereka ditelantarkan," katanya.

Penelantaran terjadi karena mereka disakiti, dijadikan pelacur, kondisi di negara suami tidak sesuai harapan dan si gadis tidak kerasan.

Ia menambahkan, suami untuk kawin kontrak berasal dari golongan menengah ke bawah, "bujang lapuk", dan pekerja di sektor informal.

"Situasi ini yang akhirnya menimbulkan kasus-kasus itu," kata Maya. Untuk menekan kasus kawin kontrak, ia dan relawan lain serta elemen yang peduli terus melakukan sosialisasi dan pendampingan. Salah satunya melalui program KB.

Singkawang berjarak 145 kilometer sebelah utara Pontianak. Jumlah penduduk berdasar sensus 2007 sebanyak 183 ribu jiwa. 42 persen diantaranya keturunan Tionghoa.

Maya juga berharap ada dukungan dari keluarga yang anaknya pernah dan menjadi incaran pelaku kawin kontrak. "Beberapa kasus menunjukkan bahwa meski pernah menjadi korban kawin kontrak namun tidak menimbulkan efek jera,"kata Maya Satrini. (*)